Bekam
adalah salah satu metode pengobatan tradisional yang telah dikenal sejak ribuan
tahun lalu. Di Indonesia, terapi ini cukup populer dan sering dikaitkan dengan
istilah “mengeluarkan darah kotor.” Namun, apakah benar bekam mengeluarkan
darah kotor? Ataukah istilah tersebut hanya bentuk penyederhanaan dari proses
medis yang lebih kompleks?
Artikel
ini akan membahasnya dari sisi sejarah, praktik, hingga sudut pandang medis
modern.
Sejarah Singkat Terapi Bekam
Bekam (hijamah)
telah dipraktikkan dalam berbagai peradaban kuno seperti di wilayah Timur
Tengah, Tiongkok, dan Mesir. Dalam tradisi Islam, bekam juga dikenal sebagai
salah satu metode pengobatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad, sehingga
praktik ini memiliki nilai religius bagi sebagian umat Muslim.
Dalam
pengobatan tradisional Tiongkok, bekam digunakan untuk melancarkan aliran
energi (qi) dan darah. Sementara di Timur Tengah, bekam basah dilakukan dengan
membuat sayatan kecil pada kulit untuk mengeluarkan darah.
Apa yang Dimaksud dengan “Darah
Kotor”?
Secara
medis, istilah “darah kotor” sebenarnya tidak dikenal. Dalam dunia kedokteran
modern, darah dibagi menjadi:
- Darah kaya oksigen (arteri)
- Darah rendah oksigen (vena)
Darah yang
mengalir dalam tubuh, baik dari arteri maupun vena, tetap merupakan bagian dari
sistem sirkulasi yang normal. Tidak ada kategori khusus bernama “darah kotor”
seperti yang sering dipahami masyarakat.
Istilah
“darah kotor” dalam konteks bekam biasanya merujuk pada:
- Darah yang dianggap
mengandung racun atau sisa metabolisme
- Darah yang stagnan (tidak
lancar peredarannya)
- Darah yang berwarna lebih
gelap saat dikeluarkan
Namun
secara ilmiah, tubuh sudah memiliki sistem detoksifikasi alami melalui hati,
ginjal, dan sistem limfatik.
Bagaimana Proses Bekam Bekerja?
Pada
bekam basah, terapis akan:
- Meletakkan cangkir khusus di
atas kulit dan menciptakan tekanan negatif (vakum).
- Setelah beberapa menit,
kulit disayat tipis.
- Cangkir dipasang kembali
untuk mengeluarkan sejumlah darah.
Tekanan
vakum ini dapat meningkatkan aliran darah lokal dan merangsang respons
inflamasi ringan. Respons inilah yang diyakini membantu proses penyembuhan atau
mengurangi nyeri pada beberapa kondisi.
Mitos atau Fakta?
Mitos:
Bekam mengeluarkan darah kotor beracun dari tubuh.
Secara medis, tidak ada bukti bahwa darah yang keluar saat bekam mengandung
“racun” khusus yang tidak bisa dikeluarkan tubuh sendiri.
Fakta:
Bekam dapat memberikan efek terapeutik tertentu.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bekam dapat membantu:
- Mengurangi nyeri otot dan
sendi
- Meredakan sakit kepala atau
migrain
- Membantu relaksasi
Efek ini
kemungkinan berasal dari:
- Peningkatan aliran darah
lokal
- Pelepasan endorfin
- Respons imun ringan akibat
sayatan kecil
Namun,
manfaat ini bersifat terbatas dan tidak menggantikan pengobatan medis untuk
penyakit serius.
Apakah Bekam Aman?
Bekam
relatif aman jika dilakukan oleh terapis terlatih dengan alat steril. Risiko
yang mungkin terjadi antara lain:
- Infeksi pada area sayatan
- Luka yang tidak higienis
- Pusing atau lemas setelah
terapi
Orang
dengan kondisi tertentu seperti anemia berat, gangguan pembekuan darah, atau
sedang mengonsumsi obat pengencer darah sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga
medis sebelum menjalani bekam.
Kesimpulan
Istilah “darah kotor” dalam bekam lebih merupakan istilah tradisional daripada istilah medis. Secara ilmiah, tubuh manusia sudah memiliki mekanisme alami untuk membersihkan zat sisa dan racun. Namun demikian, bekam tetap memiliki nilai dalam pengobatan tradisional dan dapat memberikan manfaat tertentu, terutama dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan relaksasi, jika dilakukan dengan benar dan aman. Pada akhirnya, bekam bukanlah sekadar mitos, tetapi juga bukan solusi ajaib untuk semua penyakit. Pendekatan terbaik adalah memadukan pemahaman tradisional dengan pengetahuan medis modern secara bijak.