Kabut asap, terutama yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), bukan hanya mengganggu jarak pandang. Asap mengandung campuran partikel halus dan berbagai polutan yang dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, serta saluran pernapasan. Karena itu, ketika kabut asap mulai terasa pekat, keluhan seperti mata perih atau batuk sebaiknya tidak diabaikan. Salah satu komponen yang perlu diperhatikan adalah particulate matter (PM2.5), yaitu partikel sangat kecil yang dapat terhirup jauh ke dalam paru-paru. Asap kebakaran juga dapat mengandung berbagai gas dan polutan lain. Semakin tinggi paparan, semakin besar pula potensi munculnya gangguan kesehatan. Mata merupakan salah satu bagian tubuh yang langsung terpapar udara luar. Kabut asap dapat menyebabkan: Mata terasa perih atau menyengat. Mata merah. Mata berair. Rasa tidak nyaman pada mata. Iritasi mata merupakan salah satu keluhan yang umum terjadi akibat paparan asap. Selain mata, asap dapat mengiritasi saluran pernapasan bagian atas sehingga seseorang dapat mengalami hidung berair, tenggorokan terasa kering atau mengganjal, dan rasa tidak nyaman saat bernapas. ???? 3. Batuk Batuk dapat muncul sebagai respons tubuh ketika saluran pernapasan terpapar partikel dan iritan dari asap. Pada sebagian orang, paparan juga dapat disertai mengi atau rasa sulit bernapas. ???? 4. Sesak dan Mengi Jika paparan cukup tinggi, asap dapat menyebabkan sesak napas dan mengi. Pada orang yang memiliki penyakit paru seperti asma atau PPOK, paparan asap dapat memperburuk gejala yang sudah ada. Paparan asap juga dapat disertai keluhan seperti sakit kepala, pusing, dan rasa lelah. Tingkat keluhan dapat berbeda pada setiap orang tergantung kondisi tubuh dan tingkat paparannya. Kabut asap dapat berdampak pada siapa saja, tetapi beberapa kelompok lebih rentan, termasuk: Anak-anak. Lansia. Ibu hamil. Orang dengan penyakit paru atau jantung. Orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Saat kondisi asap memburuk, langkah yang dapat dilakukan antara lain: 1. Kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Perlu diingat, masker atau respirator terutama membantu mengurangi paparan partikel; perlindungannya tidak berarti menghilangkan seluruh risiko dari semua polutan dalam asap. Jangan abaikan gejala yang berat. Segera cari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat, nyeri dada, mengi yang berat, atau keluhan yang semakin memburuk setelah terpapar kabut asap. Mata perih, tenggorokan tidak nyaman, dan batuk dapat menjadi tanda tubuh mengalami iritasi akibat paparan kabut asap. Pada paparan yang lebih berat, dapat muncul mengi, sesak napas, hingga memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada. ????? Jangan tunggu sampai kabut asap semakin tebal. Kurangi paparan dan lindungi pernapasan sejak awal.????? Apa yang Ada di Dalam Kabut Asap?
???? 1. Mata Perih dan Berair
???? 2. Hidung dan Tenggorokan Terasa Tidak Nyaman
???? 5. Sakit Kepala dan Mudah Lelah
???? Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
???? Bagaimana Mengurangi Paparan?
2. Pantau informasi kualitas udara dari sumber resmi.
3. Jika harus keluar, gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai, seperti respirator partikulat yang terpasang rapat.
4. Jaga kualitas udara di dalam ruangan dengan membatasi masuknya asap dari luar. ???? Kapan Harus Mencari Pertolongan?
Kesimpulan